METRO – Keluarga besar guru, staf karyawan dan siswa SMP Muhammadiyah 1 Metro menggelar Pengajian Songsong Ramadan 1447 H di Masjid At Taqwa Panti Asuhan Budi Utomo pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Burhan Isro’i, M.Pd.I. Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Lampung.
Dalam paparannya, Burhan Isro’i,M.Pd.I menegaskan bahwa berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, awal Ramadan tahun ini secara resmi ditetapkan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026
Penetapan ini, jelas Burhan Isro’i, merujuk pada kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kriteria ini merupakan buah dari kesepakatan internasional para ulama dan cendekiawan muslim di Istanbul tahun 2016. “Langkah ini diambil Muhammadiyah bukan tanpa alasan. Ini adalah ikhtiar besar untuk mewujudkan persatuan umat Islam secara global, agar hari-hari besar keagamaan dapat dirayakan serentak di seluruh dunia,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta pengajian

Dalam menyampaikan materinya Burhan Isro’i juga menyampaikan bahwa untuk mencapai predikat takwa yang maksimal, ada tiga aspek penting yang harus disiapkan oleh setiap Muslim:
- Persiapan Fisik dan Sarana. Bukan sekadar kesehatan tubuh, persiapan fisik mencakup kesiapan sarana ibadah. Memperbaiki tempat salat, menyediakan mushaf Al-Qur’an yang layak, hingga menyusun jadwal kajian rutin adalah langkah nyata agar ibadah di bulan suci berjalan lebih nyaman dan terorganisir.
- Persiapan Materi (Filantropi). Ramadan adalah bulan berbagi. Persiapan materi difokuskan pada pengalokasian dana untuk infak, sedekah, penyediaan takjil, hingga kesiapan menunaikan fidyah dan zakat fitri tepat pada waktunya.
- Persiapan Ilmu (Literasi Ibadah). Ilmu adalah fondasi agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas tanpa makna. Memahami ketentuan fikih puasa (termasuk hal-hal yang membatalkan dan adab-adabnya) sangat krusial untuk menghindari kesalahan yang dapat mengurangi pahala puasa.
Harapan Selama Ramadan
Dengan kematangan pada ketiga aspek tersebut, diharapkan ibadah puasa tidak hanya menjadi penahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi sarana perbaikan diri yang paripurna



